Legimin Syukri

Lahir di Simalungun 21 Maret 1963. Alumni IAIN SU Fakultas Syariah. Pegawai Kemenag Kota Medan....

Selengkapnya
Edisi Muhasabah (6) : Kita Tidak Tahu Apa yang Terjadi Kelak
Suasana Imtihan Umumy di Madrasah Tsanawiyah Al Jam'iyatul Washliyah Kecamatan Tanjung Beringin Kabupaten Serdang Bedagai Sumatera Utara. (Dokpri)

Edisi Muhasabah (6) : Kita Tidak Tahu Apa yang Terjadi Kelak



Pukul 6.30 WIB aku pamitan. Malamnya sudah kuceritakan, bahwa besok pagi Abah akan betangkat menuju satu Kabupaten yang tidak jauh dari Kota Medan yaitu Serdang Bedagai. Kunjungan ke sana untuk memantau jalannya imtihan umumy tingkat Ibtibaiyah dan Tsanawiyah Sederajat.

Apa sih pertimbangannya memilih Kabupaten Serdang Badagai? Tentunya ada alasannya dong. Di Kabupaten ini merupakan basis Perguruan Al Jam'iyatul Washliyah yang kedua setelah Kabupaten Batubara.

Masyarakatnya mayoritas terdiri dari Suku Melayu, di dua kabupaten tersebut. Secara alami, Melayu identik dengan Islam. Bisa juga disebut Melayu itu ya Islam.

Alhamdulilah Imtihan Umumy yang berlangsung di Kecamatan Tanjung Beringin ini berjalan lancar tidak ada temuan apa pun ketika melaksanakan monitoring ke lokasi imtihan.

Di dalam ruangan suasananya cukup kondusif, tenang, seolah-olah imtihan itu tidak ada.

Setelah cekrak cekrek sebagai barang bukti, ternyata secara spontan salah seorang yang monitoring membuat kejutan. Sesuatu yang dapat mencairkan suasana ketegangan itu.

Salah seorang bertanya: "Siapa yang ingin jadi Presiden?" Seorang Siswa secara spontan menjawab: "Saya Pak." Tertawalah mereka satu ruangan.

Bisa jadi tiga puluh tahun ke depan ucapan siswa yang ingin jadi presiden ini, akan menjadi kenyataan.

Selesai sudah tugas kami. Kami pun pamitan meninggalkan madrasah sekaligus meninggalkan Kecamatan Tanjung Beringin menuju Perbaungan dan pulang ke Medan.

Begitu perjalanan sudah mendekati Medan kira-kira di Tanjung Morawa anak yang mendampingi perjalanan monitoring menyampaikan: "Abah, Mama sakit. Muntah-muntah terus. Sekarang sudah disuntik sama Mimi (panggilan Haqqy Mawaddah putri kami yang bidan), sudah mendingan."
" Alhamdulillah kalau sudah ringan."

Begitu sampai di sekretariat panitia imtihan, pekerjaan masih menumpuk. Tetapi aku segera pamitan kepada panitia yang lain, mengingat Mbah Uthi yang sakit.

Begitu sampai di rumah, benar saja Mbah Uthi terkulai lemah. Kuucapkan do'a: " Allahummasy fiha wa 'afiha". Ya..Allah berikanlah kesembuhan dan maafkanlah ya..Allah.

Padahal ketika subuh sebelum Abah berangkat, Uthi sehat-sehat saja. Begitulah hidup ini, kita tidak tahu apa yang akan terjadi kelak.

Wa Ilallahi turja'ul umur.
Jalan lintas Sumatera menuju Batubara, 16 April 2019.



DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Komentar

Memang tugas kita hanya sekedar menjalani apa yang sudah Allah gariskan. Barakallah Abah, moga umi cepat sehat seperti sediakala.

16 Apr
Balas

Aamiin , betul Pak. Kita hanya menjalani.Terima kasih do'nya. Barakallah Pak Siswanto

16 Apr

Bergabung bersama komunitas Guru Menulis terbesar di Indonesia!

Menulis artikel, berkomentar, follow user hingga menerbitkan buku

Mendaftar Masuk     Lain Kali